Thursday, November 20

Pengalaman Membeli Lensa SEL 35mm f/1.8 di focusnusantara.com

Sony E-Mount Lens 35mm f/1.8
Sony E-Mount Lens 35mm f/1.8

Berburu lensa untuk kamera mirrorless Sony Alpha A6000 dengan spesifikasi SEL 35mm f/1.8 bagaikan mencari jarum di tumpukan jerami. Barangnya bisa dibilang langka. Saya menghubungi beberapa penjual lensa online dan kebanyakan dari mereka memberikan jawaban yang identik: "stok kosong." Luar biasa. Seakan-akan lensa tersebut lebih laris dari kwaci.

Saya hampir putus asa setelah menanyakan ke lebih dari 10 penjual atau toko online, hanya untuk mendapatkan jawaban yang sudah bisa saya tebak. Di saat-saat terakhir, saya mencoba lagi mencari di google dengan "trik rahasia" yang pernah saya baca di entah di mana. Saya memasukkan kata kunci "jual SEL 35mm f/1.8" di kotak pencarian. Hasilnya, google mengantarkan saya ke situs focusnusantara.com. Surprise!

Saya langsung mengontak salah satu akun YM customer service yang ada di sana, tentu saja yang statusnya terlihat online. Dan, saya merasa beruntung. Lensa 35mm f/1.8 yang saya inginkan tersedia. Tanpa menunggu lama, saya menanyakan harga ditambah biaya kirim menggunakan JNE YES. Saya pikir, tidak baik membiarkan barang kita terlalu lama di perjalanan. Apalagi saya pernah melihat dengan mata kepala saya sendiri seperti apa kejamnya dunia ekspedisi: barang dilempar, diinjak, diduduki, dan macam-macam perlakuan tidak manusiawi lainnya.

Setelah selesai melakukan pembayaran, beberapa jam kemudian saya mendapatkan resi pengiriman melalui JNE. Dan, sehari kemudian paketan datang. Terlepas dari beberapa hal tidak mengenakkan yang saya alami dengan JNE.

Paketan lensa SEL 35mm f/1.8 dari focusnusantara.com
Paketan lensa SEL 35mm f/1.8 dari focusnusantara.com
Paket yang saya terima seperti terlihat pada gambar di atas. Di-pack  dengan cukup rapi meskipun tidak dilapisi kayu, karena saya tidak memintanya.

Paketan lensa SEL 35mm f/1.8 dari focusnusantara.com
Paketan lensa SEL 35mm f/1.8 dari focusnusantara.com

Setelah dibuka plastik pembungkus paketnya, saya mendapatkan sebuah kardus sedang. Harus hati-hati membuka kardus ini, tentu saja.

paketan-lensa-sel-35mm-f-1.8-bonus-tas
Ada bonus tasnya

Tak disangka, saya mendapatkan sebuah bonus berupa tas. Saya kira, cocok untuk belanja ke pasar membeli sayuran. Di dalam amplop itu isinya faktur pembelian.

Paket pembelian SEL 35mm f/1.8 di focusnusantara.com
Paket pembelian SEL 35mm f/1.8 di focusnusantara.com
Kelengkapan yang saya dapat setelah membuka "kotak utama" yaitu beberapa buku yang bahkan tidak saya baca. Mungkin panduan pengguna dalam berbagai bahasa. Lens hood, dan tentu saja "sang tokoh utama" yaitu lensa 35mm f/1.8, komplit dengan lens cap-nya. Tambahan: garansi resmi dari Sony Indonesia selama 1 tahun.

Tampilan ketika lensa ini dipasangkan ke kamera:

Sony Alpha A6000 + SEL 35mm f/1.8
Sony Alpha A6000 + SEL 35mm f/1.8
Terlihat sangat elegan, match. Saya sangat ingin segera mencobanya, tetapi apa boleh buat, saya belum menemukan objek yang tepat ketika menulis catatan ini. Barangkali di lain kesempatan akan saya upload beberapa gambar hasil perkawinan Sony Alpha A6000 dengan SEL 35mm f/1.8 OSS itu.

Friday, November 7

Pengalaman Membeli Lensa 55-210 mm f/4.5-6.3 OSS di Tokocamzone

Sony 55-210mm f4.5-6.3 OSS
Sony 55-210mm f4.5-6.3 OSS

Saya sudah beberapa kali membeli barang secara onlen. Tapi membeli lensa adalah hal lain karena saya tidak punya cukup pengalaman dalam hal itu. Berdasarkan hasil bertanya kepada Mbah Google, dan setelah mencari toko lensa onlen ke sana ke mari, yang bisa dibilang cukup sulit karena tidak ada referensi yang cukup, akhirnya saya menjatuhkan pilihan untuk "coba-coba" belanja di Tokocamzone.

Lensa bawaan paket pembelian Sony Alpha A6000 merupakan lensa standar dengan spesifikasi 16-50mm f/3.5-5.6. Lensa bawaan itu terasa kurang memadai untuk mengambil gambar yang jaraknya agak jauh. Saya memutuskan untuk membeli lensa tambahan dengan spesifikasi 55-210mm f/4.5-6.3. Saya memilih lensa itu setelah membaca berbagai review dari web-web lokal dan luar negeri mengenai rekomendasi lensa yang cukup bagus dan tepat untuk memotret objek yang jauh.

Sebenarnya saya menginginkan lensa 55-210mm f/4.5-6.3 OSS yang berwarna hitam. Tetapi dikarenakan stok tidak tersedia di Tokocamzone, dan dengan pertimbangan bahwa saya lebih membutuhkan fungsinya daripada style warna, akhirnya saya memilih lensa tersebut. 

Saya cukup merasa heran dengan pelayanan customer service Tokocamzone. Dari enam CS yang online menggunakan Yahoo messenger, dan semuanya saya tanya mengenai barang yang akan saya beli, hanya satu yang memberikan respon. Dan itu juga bisa dikatakan respon yang cukup lambat mengingat saya perlu menunggu kurang lebih 30 menit untuk mendapat tanggapan pertama. Jika ada toko lensa lain yang bisa jadi pilihan, saya tidak akan menunggu lebih lama lagi untuk pindah ke toko lain. Bayangkan jika ada 10 orang yang mengalami perasaan sama dengan saya, berapa peluang penghasilan yang telah mereka lewatkan?? Unbelievable!

Customer service yang melayani saya bernama Anto. Saya menanyakan namanya. Saya tidak tahu apakah dia memberikan jawaban yang benar atau tidak. Tetapi, setidaknya, saya punya pegangan untuk mencari siapa jika di kemudian hari terjadi masalah dengan proses pembelian yang saya lakukan.

Setelah melakukan obrolan hampir selama 1 jam, menanyakan detail kelengkapan lensa dan lain-lain, cara pembayaran beserta pengiriman barang, akhirnya saya meminta agar pesanan saya dikirim menggunakan paket JNE YES. Saya juga meminta packing kayu walaupun untuk itu ada biaya tambahan, tetapi saya berpikir lebih baik membayar sedikit agak mahal tetapi keamanan barang pesanan kita minimal bisa dijamin.

Sebagai info tambahan, membeli barang di Tokocamzone tidak dikenakan ongkos kirim apabila kita menggunakan jasa pengiriman JNE REGULER, atau untuk lebih jelasnya silahkan dibaca syarat dan ketentuan yang mereka buat, di website mereka.

Akhirnya, singkat cerita, saya selesai melakukan deal  pembelian lensa Sony 55-210mm f/4.5-6.3 OSS di Tokocamzone. Saya melakukan transfer biaya beserta ongkos kirim dan juga packing kayu yang saya inginkan demi keamanan lensa yang saya beli itu. Karena saya membeli pada sore hari, sekitar jam 5, maka barang pesanan saya akan dikirim keesokan harinya.

Sehari berikutnya, saya menghubungi saudara Anto untuk menanyakan apakah orderan saya sudah diproses atau belum. Dia menanyakan nomer HP saya untuk mencocokkan dengan alamat tujuan pengiriman barang. Dia katakan bahwa resi pengiriman JNE telah dikirim ke nomer HP saya. Ternyata benar. Saya memang jarang menyentuh HP jika tidak ada keperluan yang jelas.

Berbekal nomer resi JNE yang saya terima, saya lalu membuka website jne.co.id untuk melakukan order tracking, agar saya tahu sudah sampai di mana barang pesanan saya. Yang mengejutkan, ternyata orderan saya dikirim menggunakan paket JNE REGULER!!! Saya hampir saja marah mengingat saya sangat membutuhkan lensa itu SEGERA!!! 

Akhirnya saya kembali membuka Yahoo messenger dan bertanya perihal "kesalahan" ini. Lagi-lagi, Anto, atau mungkin siapapun yang ada di ujung sana, membantu saya untuk mengecek pesanan saya. Kesan yang saya tangkap dari pengalaman pertama berbelanja di Tokocamzone adalah bahwa customer service mereka "terasa" seperti bekerja dalam tekanan yang tinggi dan (mungkin) suasana yang tidak mengenakkan. Saya tidak tahu. Bisa saja CS yang melayani saya sedang mengalami masalah pribadi yang cukup berat. Saya juga tidak tahu. Yang jelas, mereka bukan robot dan mereka manusia biasa yang punya rasa lelah dan lain-lain, sama seperti saya. Saya tahu itu.

Akhirnya Anto, atau siapapun di ujung sana, meminta maaf dan menjelaskan tentang "kesalahan" ini, dan juga mengakui kesalahan di pihak mereka. Apa boleh buat, saya toh tidak punya pilihan kecuali menerima apa yang sudah terjadi dan hanya bisa berharap serta menunggu lensa saya datang dalam kondisi selamat. Saya tidak mempermasalahkan kelebihan biaya pengiriman atau uangnya, saya hanya menyayangkan bahwa dengan terlambatnya pesanan saya tiba, artinya saya "kehilangan momen", dan itu cukup saya sesalkan. Oh ya, mereka berbaik hati mengembalikan kelebihan biaya pengiriman yang ada.

Dua hari kemudian, barang pesanan saya sampai. Teman saya mengambilnya langsung ke gudang JNE pada sore hari sekitar jam 5. Sebenarnya, kata teman saya, barang itu akan diantar keesokan harinya. Dan, secara keseluruhan, terlepas dari pelayanan saat membeli yang saya akui sangat lambat, juga kesalahan penggunaan paket pengiriman dan lain-lain, saya harus mengapresiasi Tokocamzone dalam hal menjaga keselamatan barang yang dibeli konsumen.

Berikut ini beberapa foto yang menunjukkan betapa rapinya Tokocamzone mengemas barang pesanan pelanggan. Saya bahkan sangat terkejut dan tidak menduga mereka mengemas sebaik ini. Luar biasa!

Kemasan kayu yang menjamin keamanan paket
Kemasan kayu yang menjamin keamanan paket
Gambar di atas menunjukkan paket yang saya terima. Berlapis kayu, untuk meminimalisir benturan mengingat lensa kamera merupakan barang yang sangat sensitif dan harus diperlakukan dengan ekstra hati-hati.


Membutuhkan palu untuk membongkar packing kayu
Membutuhkan palu untuk membongkar packing kayu

Saya bahkan memerlukan bantuan sebuah palu untuk membongkar kotak kayu pelapis paket yang saya terima, harus hati-hati membongkarnya jangan sampai terjadi kesalahan palu membentur apa yang ada dalam paket, yang justru merusak apa yang sudah dikemas dengan sangat baik.


paket diamankan dengan segel
Paket diamankan dengan segel

Terlihat jelas "plastik gelembung" yang melindungi paket di bagian luar. Sangat aman dari benturan selama perjalanan. Adanya segel memastikan bahwa barang yang kita terima tidak pernah dibongkar oleh siapapun.

SEL 55-210 mm f/4.5-6.3 OSS garansi
SEL 55-210 mm f/4.5-6.3 OSS, bergaransi Tokocamzone

Saya sangat salut dengan cara Tokocamzone mengemas barang. Berlapis-lapis dengan "plastik gelembung" dan juga kardus. Alhamdulillah, lensa SEL 55-210mm f/4.5-6.3 OSS yang saya beli tiba dalam kondisi mulus, tak kurang suatu apapun. Sebagai info tambahan, lensa yang saya beli ini hanya garansi toko, BUKAN garansi resmi dari Sony. Tetapi saya tidak mempersoalkan hal itu mengingat saya tau cara memperlakukan barang (selama ini saya belum pernah membutuhkan garansi dari perangkat apapun  yang saya beli, syukurnya).

Sony Alpha A6000 + SEL 55-210 mm f/4.5-6.3
Sony Alpha A6000 + SEL 55-210mm f/4.5-6.3

Pasangan yang sangat serasi antara Sony Alpha A6000 dengan SEL 55-210mm f/4.5-6.3 untuk memotret objek yang agak jauh. Saya tidak sabar untuk mencobanya. Sayang sekali hujan turun dengan cukup deras di luar rumah.

Teknologi Jendela Bidik (Viewfinder)

Apa yang dimaksud dengan Jendela Bidik (Viewfinder)

 

viewfinder sony alpha a6000
Viewfinder Sony Alpha A6000

Gambar di atas adalah bentuk jendela bidik (viewfinder) pada kamera Sony Alpha A6000. Jendela bidik atau jika dalam bahasa Inggris dinamakan viewfinder merupakan alat bantu yang bisa digunakan untuk melihat sasaran atau objek yang akan kita ambil gambarnya. Secara umum, viewfinder bisa dikatakan sebagai sebuah jendela kecil pada kamera yang memungkinkan tukang foto (fotografer) untuk melihat apa yang "dilihat" oleh kamera. Pada kamera-kamera digital yang tidak memiliki jendela bidik, peran dari jendela bidik ini diambil alih oleh layar LCD.

Secara garis besar, ada dua macam teknologi jendela bidik yang umum ditemukan pada kamera, yaitu Jendela Bidik Optik (Optical Viewfinder/OVF) dan Jendela Bidik Eletronik (Electronic Viewfinder/EVF).

Jendela Bidik Optik (Optical Viewfinder/OVF)

 Jendela bidik optik bekerja dengan  cara merefleksikan cahaya yang datang dari lensa kamera kemudian dipantulkan oleh cermin tunggal di dalam badan kamera ke prisma lalu cahaya itu "dibelokkan" (dipantulkan) oleh prisma tersebut ke viewfinder.
cara kerja jendela bidik optik (optical viewfinder/ovf)
Skema cara kerja viewfinder optik (sony-asia.com)
Gambar di atas memperlihatkan dengan jelas cara kerja jendela bidik optik seperti yang telah ditulis sebelumnya. Cahaya (garis berwarna merah) datang melalui lensa  kemudian dipantulkan oleh cermin (mirror) ke prisma lalu dari prisma itu diarahkan menuju jendela bidik.

Keunggulan jendela bidik optik:

  1. Tidak membutuhkan daya, dengan demikian tidak mempengaruhi batere kamera (irit).
  2. Tentu saja tidak ada jeda ketika kamera beralih ke objek lain, karena apa yang dilihat melalui jendela bidik merupakan refleksi langsung (tanpa pemrosesan oleh CPU kamera).
  3. Fokus otomatis lebih cepat karena menggunakan deteksi fasa (dibandingkan dengan deteksi kontras).

Kelemahan jendela bidik optik:

  1. Kebanyakan jendela bidik optik (kecuali yang ada pada kamera-kamera DSLR yang sangat canggih) tidak mampu menampilkan foto yang akan ditangkap oleh kamera secara penuh. Oleh karena itu, banyak pabrikan kamera yang menyertakan spesifikasi berapa persen gambar atau objek yang ditangkap oleh sensor yang bisa ditampilkan jendela bidik optik ini, misalnya 95%.
  2. Ukuran kamera dengan jendela bidik optik cenderung lebih besar dan berat.
  3. Cermin pada kamera dengan jendela bidik optik terdengar "cukup berisik" ketika sedang digunakan untuk mengambil gambar, karena cermin ini harus bergerak ke atas sehingga cahaya bisa sampai ke sensor.
  4. Pada kondisi cahaya yang rendah, akan sulit dan hampir mustahil melihat objek dari jendela bidik tipe optik.
  5. Tentu saja, tidak bisa menggunakan jendela bidik optik untuk mengambil video. 

Jendela Bidik Elektronik (Electronic Viewfinder/EVF)

Jendela bidik elektronik merepresentasikan apa yang ditangkap oleh sensor dan menampilkan apa yang akan didapatkan ketika mengambil gambar.

Kelebihan jendela bidik elektronik:

  1. Performa yang tinggi dengan ketajaman gambar yang bisa diandalkan sehingga tukang foto (fotografer) bisa mengira-ngira seperti apa hasil yang akan didapat oleh kameranya, dengan keakuratan yang bisa dikatakan cukup terpercaya.
  2. Jendela bidik elektronik menampilkan apa yang ditangkap oleh sensor secara penuh, sehingga apa yang terlihat di jendela bidik akan sama persis dengan apa yang "dilihat" oleh sensor.
  3. Jendela bidik elektronik mampu menampilkan preview  dari efek-efek yang kita terapkan pada gambar yang akan diambil oleh kamera.
  4. Jendela bidik elektronik bisa digunakan saat merekam video.

Kelemahan jendela bidik elektronik:

  1. Tidak semua jendela bidik elektronik dibuat dengan spesifikasi yang sama, berbeda dari satu kamera dengan kamera lainnya. Beberapa jendela bidik elektronik bahkan tidak memiliki kontras yang cukup sehingga sulit bagi fotografer untuk melihat detail objek yang ditangkap oleh kamera.
  2. Jendela bidik kadang-kadang mengalami jeda dikarenakan apa yang ditampilkan merupakan hasil olahan prosesor kamera dari data yang ditangkap oleh sensor, sehingga cukup sulit untuk mengamati dan fokus pada objek yang bergerak cepat.
  3. Kelemahan yang paling utama yaitu bahwa jendela bidik elektronik membutuhkan daya dalam pengoperasiannya, sehingga mustahil untuk mereka-reka foto dalam keadaan kamera kondisi mati (off).


Tuesday, November 4

Macam-macam Ukuran dan Jenis Sensor Kamera

Waktu awal-awal punya HP Nokia dulu, banyak yang bertanya: kameranya berapa megapiksel? 2MP. 1,3MP. 3,15MP. Dan lain-lain. Bahkan dulu salah satu pertimbangan saya membeli handphone antara lain adalah dengan melihat seberapa besar MP pada kameranya. Ada semacam "kepercayaan" bahwa semakin tinggi ukuran megapiksel pada kamera, maka hasil atau kualitas fotonya kian bagus.

Padahal, bukan itu faktor utama baik dan buruknya kualitas gambar yang dihasilkan oleh kamera. Setidaknya, itu yang saya pahami saat ini. Bahwa kualitas hasil foto sebuah kamera justru paling dipengaruhi oleh seberapa besar ukuran sensornya.

sensor kamera digital berdasarkan ukurannya
Macam-macam sensor kamera berdasarkan ukurannya

Ukuran Sensor Kamera Digital

Pada jaman kamera masih berbentuk analog (menggunakan film atau istilah lainnya mungkin klise), kamera akan memproyeksikan cahaya yang ditangkap oleh lensa ke film. Prinsipnya mungkin mirip dengan cara kerja mata (tentu saja, mata kita bekerja dengan sistem yang jauh lebih rumit dari alat buatan manusia manapun). Jika saya tidak salah ingat, kita bisa melihat benda karena adanya "pantulan cahaya" dari benda dan mengenai mata kita.

Pada kamera digital (maksudnya kamera yang tidak menggunakan film), fungsi film digantikan oleh alat yang disebut sensor. Sensor kamera inilah yang akan mempengaruhi seberapa baik gambar atau foto yang dihasilkan. Secara umum, semakin besar ukuran sensor sebuah kamera, maka akan semakin baik hasil pengambilan gambarnya.

Ukuran sensor pada kamera digital umumnya ada beberapa tipe, antara lain:
  1. Full Frame
  2. APS(H/S/C)
  3. 1.5" (inchi)
  4. Micro Four Thirds (4/3")
  5. 1 inchi
  6. dll.
Gambar di atas memberikan ilustrasi yang jelas mengenai perbandingan ukuran sensor pada kamera. Patokan mudahnya, ukuran sensor full frame berarti sama luasnya dengan ukuran film yang digunakan pada kamera analog, yaitu sekitar 35mm. Dan untuk lebih memahami hasil pengambilan gambar dengan objek yang sama tetapi menggunakan ukuran sensor yang berbeda, simak gambar di bawah ini:
perbandingan ukuran sensor pada kamera
Image credit: gizmag.com

Jenis Sensor Kamera

Beberapa sensor kamera digital yang banyak digunakan antara lain:
  1. CCD (Charge-coupled device)
  2. CMOS
  3. Foveon
  4. LiveMOS
Mungkin masih ada beberapa jenis sensor lainnya yang belum saya ketahui. Saya akan meng-update catatan ini jika kelak saya telah mendapat informasi tambahan.

Demikian! Semoga bermanfaat.
Jangan segan-segan memberi koreksi jika ada yang salah, maklum masih terus belajar.


Sunday, November 2

Kamera NON-HP Pertama yang Saya Beli

kamera handphone
Kamera iPhone
Saya bukan dukun apalagi tukang ramal. Tapi saya yakin sekali bahwa Anda punya handphone. Dan, saya 97% meyakini bahwa HP Anda ada kameranya! Salah? No problem, saya toh sudah katakan bahwa saya bukan dukun. OK?? Yang jelas, saya percaya bahwa Anda tahu apa gunanya kamera. Kamera, tentu saja, merupakan sebuah alat yang bisa digunakan untuk mem-foto, untuk menyimpan gambar dari suatu benda atau objek. Tidak perlu repot-repot mengecek ke Wikipedia soal deskripsi kamera di atas, itu hanya pemahaman saya pribadi, yang belum terbukti kesalahannya.

OK. Jadi, perkembangan teknologi memang sangat cepat dan luar biasa. Dahulu kala, ketika masih kecil, saya melihat sebuah kamera entah apa merknya, bentuknya agak besar (atau barangkali relatif, karena bentuk tubuh saya ketika itu yang kecil, bisa jadi), dan seingat saya hanya bisa digunakan untuk memotret sebanyak 36 kali. Setelah 36 kali jepret, yang di antara tiap jepretan harus diselingi dengan ritual menggulung roll film, maka kamera itu harus dibelikan film baru.

Jaman itu, kuda memang sudah tidak menggigit besi, tetapi mengabadikan peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan menjadi sebuah gambar (foto), bukan merupakan suatu hal yang bisa dilakukan oleh setiap orang. Bahkan kamera "analog" yang saya ceritakan di atas, seingat saya adalah kamera punya tetangga. Kakak saya meminjamnya, dan membeli sendiri filmnya, dengan merk Fuji. Seingat saya.

Hal ini tentu jauh  sekali dibandingkan dengan masa sekarang. Di mana hampir setiap orang bisa memiliki gambar mereka sendiri, mengabadikan setiap momen dalam hidup dengan cara yang jauh lebih mudah. Dan, bisa dibilang semua orang sudah punya kamera.

Sony Alpha A6000 Mirrorless Interchangeable Camera

Benar, judul di atas merupakan salah satu tipe kamera mirrorles keluaran Sony. Saya harus merasa sangat beruntung dan juga bersyukur bisa memiliki kamera ini. Apa mau dikata, kamera Sony Alpha A6000 ini merupakan kamera pertama dan satu-satunya yang saya miliki, yang bukan merupakan kamera handphone. Saya memiliki kamera pertama yang "cukup lumayan" untuk memotret objek-objek dekat sekitar tahun 2009, ketika saya untuk pertama kalinya membeli handphone Nokia 3120 Classic. Ketika itu, saya hanya memerlukan kamera untuk sekedar bergaya, untuk mengikuti arus dan tren "HP kamera" yang merebak di masa itu.

sony alpha a6000
Sony Alpha A6000 Mirrorless Camera
Itu adalah gambar fisik kamera Sony Alpha A6000 yang kemarin saya beli. Saya membelinya dari sebuah toko di kota Samarinda. Sayang sekali pada saat saya menghidupkan kamera itu, ketika mencobanya di toko, battey kamera dalam keadaan yang sangat memprihatinkan. Akhirnya saya tidak bisa memfoto apapun di Kota Tepian itu.

Berikut ini isi kotak yang saya dapatkan dalam paket pembelian kamera Sony Alpha A6000, kemarin.

paket penjualan sony alpha a6000
Paket penjualan Sony Alpha A6000

  1. Body kamera Sony Alpha A6000, tentu saja.
  2. Lensa kit (bawaan)  dengan tulisan 3.5-5.6/16-50 di badan lensa, dan pada bagian depannya juga.
  3. Empat buah buku "Panduan Pengguna" dalam empat bahasa yang berbeda.
  4. Kabel USB (untuk koneksi ke port charger).
  5. Kabel penghubung charger ke stop kontak sebanyak 3 macam.
  6. Charger kamera.
  7. Tali gantungan kamera.
  8. Pelindung jendela bidik elektronik (electronic viewfinder).
  9. Memory SDHC sebesar 8GB, class 10 (up to 40mbps).
  10. Battery NP-FW50.
Saya tidak tahu apakah memory-nya merupakan bawaan kotak atau bonus dari penjualnya. Ketika saya baca panduan pengguna, memory tidak tertulis dalam paket penjualan Sony A6000.

Oh, saya juga mendapatkan bonus sebuah tas kamera. Berhubung tidak ada merk tas Sony, dan saya bebas memilih tas mana saja yang saya suka, saya putuskan untuk mengambil yang ukurannya cukup besar, agar bisa saya gunakan untuk menyimpan handphone saya yang cukup gembrot. Itu tas ada tulisannya EOS di bagian depan agak bawah.

Tas EOS
Tas EOS
Saya membeli kamera Sony A6000 ini untuk keperluan memotret objek-objek wisata, sekaligus belajar mengenal dunia fotografi secara mandiri. Itu berarti saya harus mulai mempelajari berbagai istilah yang berkaitan dengan kamera, lensa, dan kawan-kawan. Itu bukan masalah karena saya memang suka belajar, mengetahui hal-hal baru.

Dan blog ini dibuat untuk keperluan itu: mencatat istilah-istilah fotografi yang akan saya pelajari.